Doa dan Air Mata di Puncak Dukono

Oleh: Nurwana Lambali

- Editor

Minggu, 10 Mei 2026 - 22:02 WIT

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nurwana Lambali

Nurwana Lambali

Di puncak Gunung Dukono yang kini tertutup abu tebal dan kabut duka, kita kembali diingatkan akan satu kebenaran paling mendasar: betapa kecil dan rapuhnya hidup manusia di hadapan kuasa alam. Hari itu, saat gumpalan tanah dan material panas meluncur turun, saat gemuruh gunung mengalahkan segala suara, seketika rencana, harapan, dan langkah kaki para pendaki terhenti.

Di balik derasnya hujan yang turun dan runtuhnya tanah yang bergemuruh, jauh di bawah sana, di rumah-rumah yang penuh doa, ada mata yang tak lepas menunggu kabar, ada hati yang berdebar menanti kepastian—namun akhirnya harus menerima kenyataan paling menyakitkan yang pernah ada.

Tubuh itu akhirnya ditemukan, bukan dengan pelukan hangat keberhasilan menaklukkan puncak, bukan dengan senyum bahagia karena selamat kembali. Melainkan di balik gundukan abu dingin, di tempat yang seharusnya menjadi jejak petualangan indah, kini terselimuti isak tangis yang memecah keheningan alam.

Baca Juga :  Agama dan Kekuasaan: Warisan Konflik Sejak Para Sahabat

Wajah yang dulu penuh semangat menapaki jalan terjal, kini berbaring tenang, membawa semua cerita dan impian yang belum sempat tersampaikan. Hati ini teriris, menyaksikan bagaimana perjalanan yang dimulai dengan keberanian, harus berakhir dengan perpisahan yang begitu cepat dan mendadak.

Tak ada kata-kata yang cukup indah, tak ada kalimat yang mampu merangkum pedihnya perasaan saat jenazah itu diangkat perlahan dari pangkuan gunung. Di sana, di antara tim penyelamat yang lelah namun tabah, di antara kerabat yang menangis dalam diam, yang tersisa hanyalah doa-doa yang terucap lirih, air mata yang jatuh membasahi tanah, dan kenangan manis yang akan terus hidup abadi di hati setiap orang yang mencintainya.

Baca Juga :  Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup

Gunung Dukono telah mengambil nyawa, namun ia takkan pernah mampu mengambil rasa kasih dan rindu yang tertinggal. Semoga jiwa-jiwa yang berpulang itu kini beristirahat dengan damai di sisi Tuhan, di tempat di mana tak ada lagi bahaya, tak ada lagi rasa sakit. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga setiap kekuatan langit menyertai langkah kalian ke depan.

Biarlah perpisahan ini menjadi pelajaran abadi: hiduplah dengan penuh kasih, hargai setiap detik kebersamaan, dan ingatlah—bahwa mereka yang pergi, takkan pernah benar-benar hilang, selama masih ada doa yang dipanjatkan dan kenangan yang dijaga dengan setia.

Alam memang tegas dan tak terduga, namun cinta dan ingatan manusia jauh lebih abadi dari segala letusan dan waktu.

Follow WhatsApp Channel jurnalhalmahera.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Agama dan Kekuasaan: Warisan Konflik Sejak Para Sahabat
Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup
The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah
Barack Obama: A Legacy of Progress and Change
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 15:04 WIT

Agama dan Kekuasaan: Warisan Konflik Sejak Para Sahabat

Kamis, 30 Maret 2023 - 20:15 WIT

Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:50 WIT

The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah

Rabu, 29 Maret 2023 - 01:48 WIT

Barack Obama: A Legacy of Progress and Change

Berita Terbaru